143

Absolute Craziness

2006(ii)


[2] Gempa Yogyakarta 27 mei.

Kejadian ini juga merupakan tonggak yang penting di tahun itu, pertama, karena aku hampir mati, kedua karena aku kembali diberi kesempatan untuk menebus kesalahan-kesalahan dimasa lampau, dengan sebisanya membantu menyelamatkan orang lain.

Aku kembali terhubung pada kemanusiaanku, and to the very things that defines me. Kejadian ini merevisi filosofiku mengenai dunia: bahwa tidak selalu dengan "tangan besi dan pemahaman yang tercerahkan" orang dapat mengubah keadaan.

Hal yang cukup menyejukkan adalah ternyata banyak sekali jiwa-jiwa murni yang mampu menolong tanpa niat untuk kemuliaan dan pahala, atau bahkan tidak untuk sekedar penebusan. Manusia-manusia yang menolong demi untuk menolong itu sendiri.

Walaupun perilaku tersebut bukanlah definisi dari "kemanusiaan dengan kesadaran yang diperluas", cukuplah menyenangkan mengetahui bahwa manusia masih memiliki kemampuan untuk menjadi baik.

Dengan kembali berdekatan dengan kematian-kematian, aku kembali menghargai kehidupan.

Sayang sekali, karena gempa ini pula, beberapa orang dari masa lalu menemukanku, kemudian mencoba mengotori pandangan naifku tentang dunia. Karena usaha-usaha itu, mereka akan merasakan pembalasan terpahit, dan terkejam, karena toh menjadi manusia yang seperti itulah mereka mengharapkan aku.

Dalam genangan darah dan teriakan kesakitan, setiap jiwa diuji untuk menunjukkan jatidiri mereka: manusia, serigala, atau sekedar kendaraan kosong yang cuma indah dilihat.

Dan yang membedakan adalah perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana.

Sesederhana sebuah senyum.




Leave a Reply

Required fields are marked with an asterisk (*), you may use these tags in your comment: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

 

Theme designed by The Design Canopy
WPMU Theme pack by WPMU-DEV.